Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Koleksi Emas’ Category

Jogan

Jogan

Emas, perak, batu mirah
Riau, Lingga
Lebar 27,5 cm, Tinggi 51 cm
Museum Nasional Indonesia
No. Inventaris E 13

Jogan berbentuk kipas, menyerupai daun sirih (Jawa: kayon/gunungan). Bagian pinggir dan tulang daunnya terbuat dari perak. Pada puncaknya terdapat hiasan berbentuk buah, terbuat dari emas 18 karat. Hiasan buah berbentuk bulat dan berkelopak daun tujuh helai dan bergunjai sehelai daun kecil, terbuat dari emas. Tangkai pita terdiri atas tiga lapis. Selain itu, juga terdapat hiasan sulur-suluran, roset, dan lidah api.

(lebih…)

Read Full Post »

Emas;
Dusun Plosokuning, Desa Wonoboyo, Jogonalan, Klaten, Jawa Tengah;
Awal abad ke-10 Masehi;
Panjang 28,8 cm; Lebar 14,4 cm; Tinggi 9,3 cm;
No. Inv. 8965.

Bagian luar mangkuk yang berlekuk enam, berhiaskan relief Ramayana yang menceritakan penculikan dewi Sita oleh Rawana. Oleh karena itu mangkuk ini dikenal dengan sebutan mangkuk Ramayana. Relief-relief tersebut dibuat dengan teknik solder dan teknik tempa mengambil sistem tempa dari sisi dalam (repousse technique).

Pembuatannya sangat halus dan indah sehingga mangkuk ini merupakan benda paling indah (bernilai estetika tinggi) di antara temuan-temuan Wonoboyo.

Perunggu;
Jawa Timur;
Abad ke-13—14 M;
No. Inv. 6040.

Genta Candi biasanya diletakkan di lingkungan percandian atau kuil. Fungsinya untuk memanggil umat beribadah. Hiasan pada genta candi ini sangat raya. Pada bagian puncak genta dihiasi arca dewa bertangan empat. Kemungkinan merupakan dewa dalam agama Buddha Mahayana.

Bagian sisi-sisinya dihiasi kepala Kala berahang atas dan bawah yang seolah-olah kedua tangannya mencengkeram untaian motif guirlande.

Batu;
Kutai, Kalimantan Timur;
Abad ke-5 Masehi;
Panjang 40 cm; Lebar 20 cm; Tinggi 170 cm;
No. Inv. D. 2a.

Prasasti ini adalah salah satu dari tujuh buah prasasti yang dipahatkan pada tiang batu yang disebut “Yupa”. Merupakan prasasti tertua di Indonesia. Ditulis dalam aksara Pallawa Tua dan bahasa Sansekerta.

Isinya menyebutkan tentang silsilah Mūlawarmman, raja terbesar di daerah Kutai Purba. Kakeknya bernama Kunduńga, ayahnya bernama Aśwawarmman yang berputra tiga orang. Yang terkenal dari ketiganya ialah Sang Mūlawarmman.

Disebutkan dalam prasasti Sang Mūlawarmman telah mengadakan kenduri (selamatan) besar. Untuk memperingati kenduri (selamatan) itulah, yupa ini didirikan oleh para Brahmana.

Read Full Post »

Cupeng

Tiga buah koleksi Museum Nasional yang belum banyak diketahui orang adalah cupeng, badong, dan jempang. Ketiga koleksi itu berkenaan dengan kaum wanita dan terbuat dari emas.

Cupeng adalah semacam celana bergembok atau berkunci. Istilah ini dikenal di Aceh. Pada awalnya cupeng merupakan benda upacara yang dipakai oleh anak wanita kecil. Fungsinya adalah sebagai penutup kelamin. Bentuknya seperti hati dan pemasangannya diikat dengan benang pada perut si anak. Salah satu artefak yang terkenal berbahan emas 22 karat, berukuran tinggi 6,5 cm dan lebar 5,8 cm.

Cupeng emas umum digunakan oleh orang terpandang. Artefak tersebut penuh ukiran, pinggirannya berhiaskan motif tapak jalak, bagian tengah bermotif bunga teratai dikelilingi deretan bunga bertajuk empat helai dalam bentuk belah ketupat. Bagian tengah bunga tadi bermatakan jakut merah.

Menurut tradisi lama, cupeng harus dipakai oleh anak wanita yang berusia dua hingga lima tahun. Atau digunakan ketika anak mulai berjalan sampai anak mulai pandai mengenakan sarung sendiri. Mereka percaya, cupeng merupakan penangkal roh jahat. Pada pemakaian pertama, benang yang dikalungkan terlebih dulu diberikan mantera atau jampi-jampi oleh seorang dukun.

Selain di Indonesia, cupeng dikenal di Semenanjung Malaysia. Di sana disebut caping. Diduga, caping diperkenalkan ke Asia Tenggara oleh pedagang-pedagang India pada masa kejayaan Kerajaan Sriwijaya, dari abad ke-7 hingga ke-12. Di Malaysia caping sangat populer di daerah utara, selatan, dan pantai timur Malaysia. Sedangkan di Indonesia cupeng banyak dipakai oleh penduduk Melayu sekitar pantai timur Sumatera, Dayak, Bugis, Makasar, dan Aceh.

Badong

Hampir serupa dengan cupeng adalah badong. Badong merupakan perhiasan untuk wanita bangsawan atau tokoh yang dihormati. Penggunaannya diletakkan di luar kain, tepat di depan alat kelamin wanita. Badong adalah simbol bagi wanita yang telah menikah dan dipakai pada saat suami mereka sedang berperang atau sedang berada di luar rumah. Badong juga digunakan oleh para pertapa atau pendeta wanita. Maksudnya untuk melawan godaan agar selamanya tidak melakukan hubungan intim dengan lawan jenis.

Badong berbahan emas ini ditemukan di daerah Madiun, kemungkinan berasal dari masa Majapahit sekitar abad ke-14/15. Yang unik, permukaan badong dihiasi relief cerita Sri Tanjung, seorang wanita suci yang dituduh berselingkuh oleh suaminya, Sidapaksa, dan kemudian dibunuh. Namun suatu saat Dewi Durga datang menolong Sri Tanjung dengan memberikan seekor “gajamina” (ikan gajah) untuk menyeberangi sungai dunia bawah menuju surga sebagai imbalan atas kesucian dirinya.

Jempang

Mirip dengan cupeng dan badong adalah jempang. Artefak ini ditemukan di Gowa, Sulawesi Selatan. Jempang juga merupakan penutup kemaluan wanita, merupakan pakaian sehari-hari untuk gadis-gadis muda dari kalangan bangsawan. Ketiga artefak adalah peninggalan masa lalu yang salah satu fungsinya untuk penangkal perselingkuhan. Jadi selain sebagai benda budaya, juga menunjukkan bahwa kaum wanita sudah mendapat perhatian khusus sejak lama.

Read Full Post »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.