Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Koleksi Arca’ Category

Arca Ganesha

Museum Nasional memiliki cukup banyak koleksi arca batu bermuka gajah. Arca-arca tersebut tersebar di sejumlah tempat. Sebagian besar berada dalam sikap duduk (kurmasana). Hanya dua buah yang bersikap berdiri (stanakha). Arca bermuka gajah itu disebut Ganesha.

Di antara sejumlah arca Ganesha, yang dianggap koleksi adikarya adalah arca yang berasal dari Candi Banon, Jawa Tengah. Arca itu berasal dari abad ke-8, dengan tinggi sekitar 150 sentimeter.

Arca Ganesha tersebut terbuat dari batu tunggal. Hasil pahatannya sangat halus dan detail sekali, sehingga mengundang kekaguman para pakar sejarah kesenian dan masyarakat awam. Bahkan mereka sering membelai atau mengelus belalai Ganesha. Tak lain maksudnya supaya pintar karena Ganesha dikenal sebagai dewa ilmu pengetahuan, sebagaimana kita lihat pada lambang ITB, sebuah perguruan tinggi di Bandung.

(lebih…)

Iklan

Read Full Post »

Arca Bhairawa

Arca Bhairawa

Di antara deretan arca di Museum Nasional, arca ini mudah dikenali. Ujudnya tinggi, hampir tiga meter. Warnanya kecoklatan, mungkin akibat lama terpendam di dalam tanah atau pengaruh cairan pembersih untuk perawatannya. Arca Bhairawa sering kali menjadi perhatian utama pengunjung.

Kalau arca-arca lain bersifat kalem atau tenang, arca ini gambarannya menyeramkan. Dia dilukiskan berdiri di atas mayat dan lapik dari sejumlah tengkorak. Satu tangannya memegang mangkuk berisi cairan darah manusia dan tangan lainnya memegang pisau, untuk menyembelih musuhnya.

Bhairawa adalah perujudan dari dewa Siwa. Dalam agama Hindu, Siwa dipandang sebagai dewa perusak alam semesta. Maka, supaya tidak mengganggu dunia, Siwa memiliki berbagai penjelmaan. Salah satunya adalah Bhairawa itu.

Bhairawa sangat dikenal dalam agama Siwa (Hindu) aliran Tantrayana. Istilah Tantrayana berasal dari akar kata “Tan”, berarti memaparkan kesaktian atau kekuatan dewa itu. Dari Tantrisme kemudian muncul suatu faham Bhirawa atau Bhairawa yang berarti hebat.

Wahana atau kendaraan Siwa dalam perwujudannya sebagai Bhairawa adalah serigala. Ini karena upacara dilakukan di lapangan mayat dan serigala merupakan hewan pemakan mayat. Arca Bhairawa banyak ditemukan di Sumatera, tapi beberapa arca juga terdapat di Jawa Timur dan Bali. Ciri menonjol arca Bhairawa secara umum adalah digambarkan bersifat ganas, memiliki taring, dan sangat besar seperti raksasa.

Arca Bhairawa di Museum Nasional ini terpahat dari batu tunggal. Asalnya dari areal persawahan di tepi sungai Padang Roco, Kabupaten Sawahlunto, Sumatera Barat. Sewaktu ditemukan, arca itu tidak dalam kondisi utuh, terutama sandarannya. Sebagian besar badan arca, masih terpendam di dalam tanah.

Semula masyarakat setempat tidak menyadari bahwa benda itu merupakan peninggalan arkeologis, sehingga mereka memanfaatkannya sebagai batu asah dan untuk menumbuk padi. Hal ini terlihat pada kaki kirinya yang halus dan sisi sebelah kiri arca yang tidak sempurna.

Dipercaya, arca ini merupakan perwujudan Raja Adityawarman, pendiri Kerajaan Pagaruyung di Sumatera Barat pada 1347. Nama Adityawarman sendiri berasal dari kata Sansekerta, yang artinya kurang lebih “Yang berperisai matahari” (adhitya: matahari, varman: perisai). Adityawarman adalah seorang panglima Kerajaan Majapahit yang berdarah Melayu.

Upacara memuja Bhairawa dilakukan oleh para penganut aliran Tantrayana, baik umat Hindu maupun Buddha, untuk dapat bersatu dengan dewa pada saat mereka masih hidup. Untuk itu mereka melakukan upacara jalan pintas yang disebut Pancamakarapuja.

Pancamakarapuja adalah upacara ritual dengan melakukan lima hal yang terlarang, dikenal dengan lima ma, yakni
1. Mada atau mabuk-mabukan
2. Maudra atau tarian melelahkan hingga jatuh pingsan
3. Mamsa atau makan daging mayat dan minum darah
4. Matsya atau makan ikan gembung beracun
5. Maithuna atau bersetubuh secara berlebihan

Read Full Post »