Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Koleksi Numismatik’ Category

Uang dan Medali

Uang “PITIH TEBOH”

Uang ini berbentuk segi delapan dengan lubang bundar di bagian tengah. Terbuat dari timah dengan berat 1,44 gram.

Berasal dari Palembang, Sumatera Selatan. Pada salah satu sisi tertera tulisan Arab, “Haza fulus fi Balad Palembang-1219”. Dari angka tahun Hijriyah yang tertera 1219 (=1804 Masehi), diketahui uang ini beredar pada masa pemerintahan Sultan Mahmud Badaruddin.

(lebih…)

Read Full Post »

Uang Kampua

Uang Kampua

Panjang 140 mm
Lebar 170 mm
Bahan kain katun

Uang kampua disebut juga bida. Uang ini sangat unik dan langka. Dibuat dengan keterampilan tangan. Cara pembuatannya bukan dicetak tapi ditenun oleh putri-putri istana atau kalangan kerajaan. Mata uang ini beredar pada abad ke-19 di Kerajaan Buton, Sulawesi Tenggara.

Kemungkinan kampua merupakan uang tertua di Pulau Sulawesi. Selain di Buton, kampua juga pernah diberlakukan di Bone, Sulawesi Selatan, dengan bahan serat kayu. Menurut legenda, kampua diciptakan pertama kali oleh Ratu Buton yang kedua, Bulawambona. Dia memerintah sekitar abad ke-14.

Keunikan lain uang kampua adalah agar terkendali maka jumlah dan corak uang ini ditentukan oleh ‘panitia’ pimpinan Menteri Besar Kerajaan yang disebut ‘Bonto Ogena’. Dialah yang melakukan pengawasan dan pencatatan atas setiap lembar kain kampua, baik yang telah selesai ditenun maupun yang sudah dipotong-potong.

Pengawasan oleh ‘Bonto Ogena’ juga dimaksudkan agar tidak timbul pemalsuan. Karena itu, hampir setiap tahun motif dan corak kampua selalu diubah-ubah. Hukum di sana memang sangat ketat dan berat. Barang siapa yang ketahuan membuat atau memalsukan uang kampua akan dipancung.

Standar pemotongan kain kampua adalah dengan mengukur lebar dan panjangnya, yakni empat jari untuk lebarnya dan sepanjang telapak tangan mulai dari tulang pergelangan tangan sampai ke ujung jari tangan, untuk panjangnya. Tangan yang dipakai sebagai alat ukur adalah tangan sang ‘Bonto Ogena’ itu sendiri.

Mata uang kampua banyak digunakan pada masa pemerintahan Sultan Dayan pada abad ke-14. Tapi diyakini pembuatannya sudah dilakukan pada pemerintahan raja sebelumnya.

Disayangkan, informasi yang akurat belum ditemukan. Kampua menjadi populer karena Sultan Dayan memerintahkan agar setiap transaksi menggunakan mata uang tersebut. Barang siapa yang ketahuan menggunakan mata uang lain, akan dihukum mati. Pada awal pembuatannya, standar yang dipakai sebagai nilai tukar untuk satu ‘bida’ (lembar) kampua adalah sama dengan nilai satu butir telur ayam.

Setelah Belanda memasuki wilayah Buton kira-kira tahun 1851, fungsi kampua sebagai alat tukar lambat laun mulai digantikan oleh uang-uang buatan “Kompeni”. Ditetapkan bahwa nilai tukar untuk 40 lembar kampua sama dengan 10 sen duit tembaga atau setiap empat lembar kampua mempunyai nilai sebesar satu sen. Walaupun demikian, kampua tetap digunakan pada desa-desa tertentu di Kepulauan Buton sampai 1940.

Selain di Museum Nasional, koleksi uang kampua juga dimiliki Museum Bank Indonesia Jakarta Kota dan Museum Mpu Tantular Surabaya.

Read Full Post »