Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Koleksi Sejarah’ Category

Buku Perjanjian

Sutera, katun, kertas dan emas
Sulawesi
Panjang 35,5 cm; Lebar 22,6 cm; Tebal 0,75 cm
Museum Nasional Indonesia
No. Inventaris 18665d/E 1347

Merupakan kitab kontrak yang terdiri atas 36 halaman, antara J. Albert George Brugman (Asisten Residen di Sulawesi) dengan Aroen Alieta, Kepala Daerah Ha Koelao Karaeng Lembung Parang.

(lebih…)

Iklan

Read Full Post »

Kalung Emas

Kalung/Rantai

Emas
Panjang 32 cm; Lebar 3 cm
Aceh, Sumatera
Museum Nasional Indonesia
No. Inventaris 11790/E 246

Kalung ini merupakan perhiasan leher, terdiri atas untaian biji ketimun (16 buah) diselingi mata uang bertuliskan huruf Arab dari masa Sultan Alaudin. Pada bagian tengah kalung terdapat tabung persegi enam untuk menaruh jimat. Jimat itu dipercaya dapat melindungi pemakainya dari bahaya.

(lebih…)

Read Full Post »

Talam/Piring dengan Inskripsi

Emas
Bangkalan, Madura, Jawa Timur
Museum Nasional Indonesia
No. Inventaris 5820/E 666

Talam ini berbentuk piringan berkaki tiga. Terdapat tulisan beraksara Latin dan Jawa di bagian tengah. Selain itu terdapat hiasan sulur-suluran.

Piring prasasti emas ini diberikan Belanda kepada penguasa Bangkalan Madura sebagai penghargaan atas bantuan tentara Madura kepada kerajaan Belanda saat melawan Inggris. Hal ini tertulis pada bagian tengah piring, menggunakan bahasa Belanda dan aksara Jawa.

(lebih…)

Read Full Post »

Mangkuk

Porselin
Yogyakarta
Diameter 10,5 cm, Tinggi 6,5 cm
Museum Nasional Indonesia
No. Inventaris 20239 b

Mangkuk ini dibuat dari porselin Perancis warna putih. Pada bagian sisi dalam mangkuk terdapat tulisan beraksara Jawa berwarna biru, berbunyi “Kaping 10 (hari): 4 (bulan): 3 (tahun): 45 (tahun Jawa 1845 = 1915 M) arwah sewu dintenipun suwargi Gusti Kanjeng Ratu Bendara”.

(lebih…)

Read Full Post »

Mamolo atau Mastaka ini disebut Rama, nama salah seorang tokoh wayang purwa, anak Raja Kosala yang dianggap sebagai titisan Dewa Wisnu yang beristrikan Dewi Sita.

Dalam bahasa Sunda, mamolo atau mastaka berarti kepala. Dalam adat-istiadat mereka, kepala merupakan bagian yang paling tinggi dan dianggap suci. Itu sebabnya benda ini diletakkan di atas.

Hiasan atap ini berbentuk segi empat atau bulat yang meruncing ke atas. Mamolo biasanya terbagi menjadi tiga bagian, yakni bagian bawah, bagian tengah, dan bagian atas. Tiap-tiap bagian dibuat dengan cara bertahap. Pertama, dibuat bagian bawah dengan bentuk lebar yang disebut indung (ibu). Kedua, dibuat bagian tengah yang bentuknya menekuk ke dalam dan mempunyai pinggang yang disebut anak. Ketiga, dibuat bagian atas yang berukuran hampir sama dengan bagian bawah, namun bentuknya meruncing ke atas. Bagian puncaknya dapat dilepaskan, disebut incu (cucu), tempat meletakkan mahkota.

(lebih…)

Read Full Post »

Batu;
Lontor, Maluku;
Abad ke-16;
Panjang ± 200 cm; Lebar ± 40 cm;
No. Inv. 18430

Awalnya prasasti batu ini adalah sebuah prasasti yang ditulis dalam bahasa Portugis, berangka tahun 1551. Kemudian, pada zaman Kompeni Belanda (VOC), di bagian atas prasasti berbahasa Portugis dipahatkan tulisan dalam bahasa Belanda. Isinya menyatakan bahwa batu ini adalah sebuah tanda batas yang didirikan atas perintah Jan van der Broeke, seorang pejabat Kompeni Belanda, dalam tahun 1705.

Kayu;
Jakarta;
Akhir abad ke-17;
Panjang 221 cm; Tinggi 197 cm; Lebar 82 cm;
No. Inv. 22146/45.

Ukiran panel kayu yang rumit ini mengingatkan pada gaya ukiran zaman Louis XIV dan diperkirakan dibuat pada akhir abad ke-17. Digunakan sebagai penyekat di dalam ruang kantor pemerintah Hindia-Belanda. Objek yang sama juga sering dijumpai di ruangan kapal.

Kulit, kain dan besi;
Yogyakarta;
Abad ke-19;
Panjang 80 cm; Lebar 68 cm;
No. Inv. 271.

Pelana kuda ini dulu adalah milik Pangeran Diponegoro, pernah digunakan dalam perang melawan pemerintah Hindia-Belanda antara tahun 1825-1830.

Read Full Post »

Meriam

Meriam

Museum Nasional memiliki beberapa koleksi meriam kuno. Pengunjung dapat menjumpainya di halaman depan. Selain itu terdapat pula di ruang pameran gedung baru.

Meriam-meriam kuno tidak bisa dilepaskan dari sejarah Indonesia. Pada zaman penjajahan, berbagai peperangan sering terjadi di wilayah laut dan darat. Meriam dipakai karena mampu menembak musuh dari jarak jauh. Lagi pula meriam sangat kokoh, karena bahannya dari besi dan perunggu.

Meriam mulai dikenal di Indonesia sejak abad ke-16, dibawa oleh bangsa Portugis. Kata meriam berasal dari Maria(m), nama yang sering diucapkan orang-orang Portugis ketika menggunakan senjata tersebut dalam pertempuran. Maria dianggap pelindung dan pemberi keselamatan bagi mereka.

Dari bentuknya, meriam dibedakan menjadi tiga macam, yakni meriam bumbung, meriam coak, dan meriam lela. Meriam bumbung berbentuk seperti bumbung, yakni pipa yang terbuat dari bambu.

Meriam coak, mendapat nama itu karena bagian pangkal meriam terbuka atau terkuak. Dalam dialek Betawi terbuka atau terkuak disebut coak.

Meriam lela berukuran lebih kecil daripada meriam-meriam di atas, namun modelnya menarik. Meriam lela digunakan dan dibunyikan pada saat upacara, misalnya dalam pengangkatan seorang raja, menerima tamu penting, melamar calon pengantin, dan menghormati kematian orang terpandang.

Menurut fungsinya, meriam dibedakan menjadi tiga macam, yakni meriam kapal, meriam benteng, dan meriam artileri. Meriam kapal biasanya berlaras pendek dan berukuran besar, namun dapat menembak lebih jauh. Meriam benteng berukuran paling besar dan berat, biasanya ditempatkan di setiap sudut benteng atau di sepanjang pantai. Sedangkan meriam artileri umumnya berukuran sedang dan kecil serta mudah dibawa atau didorong saat perang.

Beberapa meriam dilengkapi dengan ragam hias. Selain untuk memperindah meriam, juga mempunyai makna dan arti tertentu, misalnya berupa lambang dan tulisan. Lambang atau tulisan dimaksudkan sebagai jatidiri meriam tersebut, sehingga bermanfaat untuk para peneliti. Biasanya yang tertera adalah tahun pembuatan, asal meriam, dan nama penguasa waktu itu.

Zaman terus berubah. Muncul tingkah laku masyarakat yang bersifat religio-magis. Akibatnya banyak peninggalan meriam kuno diberi nama dan dipuja-puja orang. Meriam Si Jagur adalah salah satu contohnya. Dulu meriam ini banyak dikunjungi peziarah yang mencari berkah. Meriam tersebut selalu diberi sesajian. Semula meriam ini terletak di Pasar Ikan, kemudian dipindahkan ke Museum Nasional. Sekarang Si Jagur ditempatkan di halaman belakang Museum Sejarah Jakarta.

Read Full Post »